May 16, 2011

Do You Agree If I Called Love is a Torment?

Topiknya langsung ke cinta aja kali ya, hehehe. I thought everyone does love, right? Saya, dia, dan juga kamu. Bohong kalau kamu bilang kamu nggak pernah jatuh cinta. Yaaa... sekedar rasa kagum pada seseorang, interest pada seseorang.

Jujur saja, perasaan saya sedang sama seperti ABG-ABG (oh well, meskipun saya bukan lagi ABG mengingat umur saya yang nyaris kepala dua, wow) yang ada sekarang (or you can call them as "ABG labil"). Bukan berarti saya labil, lho. Tetapi hell-yeah, saya suka sekali galau. Tetapi untuk sekarang ini, saya lebih tidak suka menunjukkan kepada siapa pun kegalauan saya, tidak mem-posting tulisan-tulisan galau di jejaring Internet seperti Facebook, Twitter, atau Tumblr saya. Saya memendamnya sendirian.

Saya ingat, awalnya saya menganggap orang ini pengganggu di awal kehidupan kampus saya. Tetapi saya tipe orang yang tidak memusingkan bagaimana sikap seseorang terhadap saya. Saya bawa enjoy saja orangnya. Saya sendiri suka banget pulang bareng orang ini. Status saya pun bukan "sahabat"-nya, hanya teman biasa. Really just a mere friend. Tetapi, entah mengapa, ketika saya dan dia menunggu kereta setelah kelas seni, ada suatu pikiran kotor di kepala saya. Dan, astaga, saya juga bingung kenapa saya bisa berpikiran seperti itu. Saya pun menegaskan bahwa tidak mungkin hal itu terjadi. Tetapi ketika sampai ke rumah, saya kepikiran terus.

Lambat laun pun, saya dekat dengan dia. Well, we're the good friends. Ya pokoknya kalo ada dia, ada saya deh, plus dua orang lainnya. Saya pun mulai menyadari bahwa... ya, seperti dugaan kalian, saya suka dengan orang ini.

Perasaan-perasaan itu selalu menggerogoti saya, dan saya rasa menyebalkan sekali perasaan itu. Karena apa? Karena saya tahu, saya tidak mungkin memilikinya. Menyakitkan, memang. Jadi, saya menikmati momen-momen saya bersama dia. Saya dan teman-teman saya pun pernah melakukan trip pergi ke luar kota beramai-ramai. Saat itu... saat itu saya sangat tahu bahwa saya sangat suka dengan dia. Dia itu adiktif.

Lalu, akhir-akhir ini, saya sering sekali memergoki dia sedang menatap saya. Saya sendiri nggak tahu, apa maksud dari tatapannya itu. Saya dapati sorot itu ketika di kelas, karena saya memang banyak mendapat kelas di mata kuliah yang sama. Entah lah... tapi ketika sorot itu beradu dengan mata saya, terus terang saya gak berani menghadapinya. Yeah, I just chickened out, dear. I knew, chickening out is not way to face a problem.

Karena ketidakmungkinan memiliki orang itu, saya berusaha untuk menghindar dari dia. Tetapi entah kenapa, makin dihindari, justru orang itu makin mendekat. Ah, galau...

Saya, Raku, sangat sangat sayang dengan orang itu. Entahlah, bagaimana posisi saya di hati orang itu. Dan karena itu, saya menyebut "love is a torment". Setujukah?

No comments:

Post a Comment