Mungkin, saya memang bukan anak yang layak buatnya. Mungkin gue jauh daripada kesempurnaan buat dia. Tetapi, pantas ya saya selalu disalahkan? Apa pun yang ada selalu menjatuhkan? Apa yang ada selalu dibandingkan? Dibilang GOBLOK dengan penekanan yang menyebalkan dan itu keluar dari ibu saya sendiri. Oke, saya sangat menghargai dan menghormati Anda sekali. Setidaknya, Anda yang melahirkan saya ke sini. Tetapi apakah pantas untuk mendidik anaknya sendiri Anda bermain dengan kata itu? Apa pun tindakan saya, selalu Anda katakan TOLOL GOBLOK. Maaf, itu tidak pantas.
Saya langsung post ke sini karena sebenarnya saya sudah muak. Jujur, muak sekali. Belakangan ini ini Anda selalu menghujat saya. Oke, saya tahu saya salah. Saya nggak solat. Tetapi ujung-ujungnya merembet ke hal-hal kecil yang gak sepatutnya dibicarakan. Apa? Apa emang saya sebegitu menyebalkannya di mata Anda? Entah, saya sendiri bingung dengan sikap Anda. Tadi Anda ngomel panjang-lebar membandingkan saya dan abang saya tentang hal ngurus adik. Tapi ternyata pagi ini saya ngurusin dan Anda berkelit. ITU MENYEBALKAN. JELAS-JELAS SAYA CARE.
Kenapa sih semuanya serba-salah? Jujur, saya ingin berontak! Tetapi saya masih punya akal. Saya masih tahu ada resiko besar jika saya berontak. Mungkin pemberontakan dengan cara yang manis lebih tepat untuk Anda! Don't judge that I'm a sandbag. I'm a great fighter as you know.
Play Your Words
I just can play with my words. And I invite you to play with me!
July 30, 2011
June 24, 2011
Perubahan dan BlackBerry
Sejujurnya, saya mau untuk mem-posting tulisan ini. Karena di sini terindikasi bahwa saya iri sekali dengan pengguna BlackBerry. Saya di sini juga beropini dan tanpa maksud apa pun ya...
Okay, sebenarnya, saya sudah dari dua tahun lalu kepengiiiiiin banget beli gadget ini. Pun, harganya sudah turun dan nggak terlalu mahal bagi sebagian orang. Sayang seribu sayang tetap saja saya gak bisa ngebelinya! Saya memang dilahirkan dengan kondisi keluarga yang biasa-biasa saja. Gak miskin-miskin banget juga sih hehehe. Tetapi ya begitu lah.
Saya sadar juga, saya ini memang termasuk orang yang terbawa arus teknologi. Ya, emang sih gak semua temen saya pake BB ini. Tetapi kadang, saya terasa amat tertinggal jika mereka berkomunikasi dengan BBM dan sebagainya. Itu menyebalkan. Pun, keluarga saya ada rezeki berlebih, hal itu gak akan membuat mama saya untuk membelikan saya hal itu. Hahaha. Mengenaskannya adalah saya bukan tipe anak yang selalu diberikan sesuatu oleh orangtuanya sejak kecil. Dulu, ketika orangtua lain berlomba memberi hadiah Sega atau PlayStation jika anaknya dapet peringkat di sekolah, saya yang sering banget peringkat satu sama sekali gak pernah dibeliin apa pun. Sampai ponsel pun, saya baru benar-benar punya ketika saya kuliah. Sebelumnya, saya nebeng nomor mama saya. Ha! Saya pun beli ponsel bukan karena dibeliin, tapi beli sendiri karena memenangkan suatu lomba.
Dan, ketika semuanya menuntut untuk memakai BB ini, saya lagi-lagi gak bisa apa-apa. Mengandalkan menang lomba lagi? Agak sulit sepertinya. Ah, saya sedang mencoba meng-apply beasiswa. Semoga saja saya benar-benar dapat dan dapat membeli gadget ini... SAYA KEPENGIN SEKALI. BUKAN BUAT GAYA-GAYAAN KAYAK YANG LAIN... TAPI KARENA SAYA NGERASA SAYA BUTUH...
Kadang, dunia itu emang gak adil.
June 18, 2011
Galau Akademis
Nah, saya mau curhat! Ya ya ya ya. Curhat beneran. Tapi bukan tentang dia yang buat hati saya gamang sampai ke ulu... tetapi karena IP dan IPK di semester genap ini! Begini, jadi kemarin adalah batas pengisian nilai dari dosen ke web resmi kampus saya.
Harusnya, pukul 24.00 saya udah tahu IP dan IPK semester genap ini. TETAPI.... ada seorang DOSEN yang LUPA akan kewajibannya :( Menyebalkan sekali bukan? Jika begitu, konon katanya nilai bisa dipukul rata jadi B! B!!!! Sudah cukup deh ada B karena mata kuliah bahasa Inggris. Jangan ada lagi, please... Dan, dosen ini nampaknya sama sekali gak punya niat untuk segera membereskan masalah ini. Haduh si Bapak ini gimana sih. Saya jengkel lho Pak.... Bapak ngasih tugas banyak, kuis berkali-kali, terus... ga ngisi *IA*? Menyebalkan sekali. Memang, untuk sementara IP saya bagus; 3.72 dan IPK 3.75 (bukan maksud sombong). Dan jika saya kalkulasikan dengan rinci, jika saya dikasih (ya Allah amit-amit) B, IP saya jadi 3.61 dan IPK 3.70... Jujur, saya gak mau. Saya kira saya bisa lebih dari itu. Bukan masalah tidak bersyukur atau apa. karena hal ini disebabkan oleh dosen berinisial AY itu :( Ini kan atas kesalahannya... kenapa dia tidak punya keinginan untuk mencoba meminta dispen dari fakultas? Saya sangat kecewa sekali dengan dosen ini...
Tapi ya sudahlah. Kita lihat bagaimana nanti :(
Yang kecewa, Riku.
June 01, 2011
Kamu dan Kemarahanmu
Kamu terlalu ambigu. Sekat tipis itu kadang kamu buat jadi tebal. Dan yang tebal itu kadang jadi tipis. Semuanya abstrak, semuanya membingungkan. Kamu tahu, bahwa keabstrakan yang kamu ciptakan itu menjadi sebuah senjata yang menikam hatiku sampai ke ulu?
Aku cuma bisa menebak-nebak, sama sekali tidak berani untuk merasakan. Sebenarnya, apa yang ada di hatimu? Kenapa kamu bersikap seperti demikian? Kenapa kamu tidak mengatakan segala luapan itu? Kamu aneh.
Kebohongan kini hanya jadi tameng. Tamengku untuk menutupi kegamangan yang kamu ciptakan. Yang kamu buat, yang kamu ciptakan. Mungkin, mungkin sampai nanti aku sendiri. Kamu kadang terlihat marah. Terlihat begitu menakutkan sehingga satu huruf saja aku tidak berani keluarkan untuk menyolekmu. Kepulan-kepulan kerinduan hati ini, sesungguhnya, menjadi sebuah makanan hatiku. Dan itu, karena kemarahanmu yang ambigu.
May 26, 2011
Keyword
Astaga, ini minggu-minggu UAS... dan pusing sekali otak saya. Seharusnya, hari ini adalah UAS terakhir. Namun sayang beribu sayang, karena Senin lalu ada hari kejepit jadilah hari Senin besok UAS-nya. Arrggghh... UAS politik pula. Oalah... hapalan. Dan yang menyedihkan adalah ketika saya buka nilai IP untuk semester ini. Ternyata mengecewakan untuk satu mata kuliah itu.
Ya Allah, semoga nilai-nilai nanti akan membantu mengangkat IP saya semester ini. Amiiiiiiiiin :')
May 20, 2011
Saya Malam Ini Galau!
Ah, saya ini emang tukang galau deh ya. Padahal seharusnya nih ya, saya sibuk belajar karena Senin sudah mulai UAS! Hell-o, bagaimana dengan IP semester dua saya? Saya malah galau! Haha. Bodoh, memang. Itulah saya.
Jadi, sebenarnya saya sama sekali gak galau lho dari tadi pagi. Sampai ketika saya iseng log in ke salah satu jejaring sosial yang dulu booming banget, dan sudah gak keliatan lagi sekarang: FRIENDSTER!
Hell yeah. Sebenernya saya mau iseng-iseng aja mau main ini jejaring sosial. Ya mau liat-liat komen yang alay nan norak gitu deh. Tapi... tapi... tapi...
Haha. Bukan. Saya bukan galau karena liat adanya "masa lalu" di Friendster saya. Cuma aja, saya kan baru liat Friendster-nya orang itu. Yap, "orang itu". Dan yang buat galau adalah...
Di shout out Friendster-nya, ada nama saya. Hanya nama saya! Entah. Entah apa maksudnya. Posting-an itu saya liat tanggalnya... dan ternyata bulan Januari. Saya pun langsung nge-print screen buat bukti bahwa memang benar adanya pernah ada posting-an seperti itu.
Januari. Liburan semester awal. Di mana saya gak ada abis-abisnya mikirin orang itu. Dan, as you know... itu berarti setelah saya dan orang itu abis liburan bareng. Ah, entahlah. Saya lupa tanggal kapan saya liburan bareng dia dan kawan yang lain.
Saya inget banget pas salah satu teman bilang di Twitter, "Lo berdua kok keliatan deket ya sekarang." Ah, kan... Saya jadi beneran galau. Hmppffhh....
Dan, sebelumnya, saya pernah bilang sama orang itu kalo saya mau coba tes SNMPTN lagi. Dia menanggapi biasa aja, tapi ada di salah satu tweet-nya bilang kalo dia rela ada orang yang pergi jauh karena belom dalem. That's make me curious. Apa maksudnya saya? Tapi, saya gak berani nebak-nebak. Cuma berani ngerasain aja.
Ah, tuh kan. Galau.
Ah, tuh kan. Tugas belum kelar.
Cheers, guys!
May 17, 2011
Kau
Fantasi kotor menyulam, memberi indikasi agar kau terpatri.
Masih terukir, ketika kita berteman dengan peluh dan teriakan kereta.
Hati ini mencoba mengikis, tetapi kau balik gerogoti.
Tanya menjawab, kau.
Jawab bertanya, kau.
Jelaga hitam matamu mengoyak asa, namun menimbulkan asa.
Asa pekat yang selalu menertawakan.
Satu hal pasti, aku ingin peluk hangatmu yang menjalar.
Masih terukir, ketika kita berteman dengan peluh dan teriakan kereta.
Hati ini mencoba mengikis, tetapi kau balik gerogoti.
Tanya menjawab, kau.
Jawab bertanya, kau.
Jelaga hitam matamu mengoyak asa, namun menimbulkan asa.
Asa pekat yang selalu menertawakan.
Satu hal pasti, aku ingin peluk hangatmu yang menjalar.
May 16, 2011
Do You Agree If I Called Love is a Torment?
Topiknya langsung ke cinta aja kali ya, hehehe. I thought everyone does love, right? Saya, dia, dan juga kamu. Bohong kalau kamu bilang kamu nggak pernah jatuh cinta. Yaaa... sekedar rasa kagum pada seseorang, interest pada seseorang.
Jujur saja, perasaan saya sedang sama seperti ABG-ABG (oh well, meskipun saya bukan lagi ABG mengingat umur saya yang nyaris kepala dua, wow) yang ada sekarang (or you can call them as "ABG labil"). Bukan berarti saya labil, lho. Tetapi hell-yeah, saya suka sekali galau. Tetapi untuk sekarang ini, saya lebih tidak suka menunjukkan kepada siapa pun kegalauan saya, tidak mem-posting tulisan-tulisan galau di jejaring Internet seperti Facebook, Twitter, atau Tumblr saya. Saya memendamnya sendirian.
Saya ingat, awalnya saya menganggap orang ini pengganggu di awal kehidupan kampus saya. Tetapi saya tipe orang yang tidak memusingkan bagaimana sikap seseorang terhadap saya. Saya bawa enjoy saja orangnya. Saya sendiri suka banget pulang bareng orang ini. Status saya pun bukan "sahabat"-nya, hanya teman biasa. Really just a mere friend. Tetapi, entah mengapa, ketika saya dan dia menunggu kereta setelah kelas seni, ada suatu pikiran kotor di kepala saya. Dan, astaga, saya juga bingung kenapa saya bisa berpikiran seperti itu. Saya pun menegaskan bahwa tidak mungkin hal itu terjadi. Tetapi ketika sampai ke rumah, saya kepikiran terus.
Lambat laun pun, saya dekat dengan dia. Well, we're the good friends. Ya pokoknya kalo ada dia, ada saya deh, plus dua orang lainnya. Saya pun mulai menyadari bahwa... ya, seperti dugaan kalian, saya suka dengan orang ini.
Perasaan-perasaan itu selalu menggerogoti saya, dan saya rasa menyebalkan sekali perasaan itu. Karena apa? Karena saya tahu, saya tidak mungkin memilikinya. Menyakitkan, memang. Jadi, saya menikmati momen-momen saya bersama dia. Saya dan teman-teman saya pun pernah melakukan trip pergi ke luar kota beramai-ramai. Saat itu... saat itu saya sangat tahu bahwa saya sangat suka dengan dia. Dia itu adiktif.
Lalu, akhir-akhir ini, saya sering sekali memergoki dia sedang menatap saya. Saya sendiri nggak tahu, apa maksud dari tatapannya itu. Saya dapati sorot itu ketika di kelas, karena saya memang banyak mendapat kelas di mata kuliah yang sama. Entah lah... tapi ketika sorot itu beradu dengan mata saya, terus terang saya gak berani menghadapinya. Yeah, I just chickened out, dear. I knew, chickening out is not way to face a problem.
Karena ketidakmungkinan memiliki orang itu, saya berusaha untuk menghindar dari dia. Tetapi entah kenapa, makin dihindari, justru orang itu makin mendekat. Ah, galau...
Saya, Raku, sangat sangat sayang dengan orang itu. Entahlah, bagaimana posisi saya di hati orang itu. Dan karena itu, saya menyebut "love is a torment". Setujukah?
Jujur saja, perasaan saya sedang sama seperti ABG-ABG (oh well, meskipun saya bukan lagi ABG mengingat umur saya yang nyaris kepala dua, wow) yang ada sekarang (or you can call them as "ABG labil"). Bukan berarti saya labil, lho. Tetapi hell-yeah, saya suka sekali galau. Tetapi untuk sekarang ini, saya lebih tidak suka menunjukkan kepada siapa pun kegalauan saya, tidak mem-posting tulisan-tulisan galau di jejaring Internet seperti Facebook, Twitter, atau Tumblr saya. Saya memendamnya sendirian.
Saya ingat, awalnya saya menganggap orang ini pengganggu di awal kehidupan kampus saya. Tetapi saya tipe orang yang tidak memusingkan bagaimana sikap seseorang terhadap saya. Saya bawa enjoy saja orangnya. Saya sendiri suka banget pulang bareng orang ini. Status saya pun bukan "sahabat"-nya, hanya teman biasa. Really just a mere friend. Tetapi, entah mengapa, ketika saya dan dia menunggu kereta setelah kelas seni, ada suatu pikiran kotor di kepala saya. Dan, astaga, saya juga bingung kenapa saya bisa berpikiran seperti itu. Saya pun menegaskan bahwa tidak mungkin hal itu terjadi. Tetapi ketika sampai ke rumah, saya kepikiran terus.
Lambat laun pun, saya dekat dengan dia. Well, we're the good friends. Ya pokoknya kalo ada dia, ada saya deh, plus dua orang lainnya. Saya pun mulai menyadari bahwa... ya, seperti dugaan kalian, saya suka dengan orang ini.
Perasaan-perasaan itu selalu menggerogoti saya, dan saya rasa menyebalkan sekali perasaan itu. Karena apa? Karena saya tahu, saya tidak mungkin memilikinya. Menyakitkan, memang. Jadi, saya menikmati momen-momen saya bersama dia. Saya dan teman-teman saya pun pernah melakukan trip pergi ke luar kota beramai-ramai. Saat itu... saat itu saya sangat tahu bahwa saya sangat suka dengan dia. Dia itu adiktif.
Lalu, akhir-akhir ini, saya sering sekali memergoki dia sedang menatap saya. Saya sendiri nggak tahu, apa maksud dari tatapannya itu. Saya dapati sorot itu ketika di kelas, karena saya memang banyak mendapat kelas di mata kuliah yang sama. Entah lah... tapi ketika sorot itu beradu dengan mata saya, terus terang saya gak berani menghadapinya. Yeah, I just chickened out, dear. I knew, chickening out is not way to face a problem.
Karena ketidakmungkinan memiliki orang itu, saya berusaha untuk menghindar dari dia. Tetapi entah kenapa, makin dihindari, justru orang itu makin mendekat. Ah, galau...
Saya, Raku, sangat sangat sayang dengan orang itu. Entahlah, bagaimana posisi saya di hati orang itu. Dan karena itu, saya menyebut "love is a torment". Setujukah?
Welcome to Blogger!
Wah, finally saya membuat blog (lagi).
Entah mengapa saya ingin membuat blog dengan mencurahkan perasaan hati saya. Karena, kedua blog sebelumnya yang saya punya saya cantumkan nama asli saya, dan banyak diketahui orang, hehehe...
Sebenarnya, maksud saya buat blog ini bukan sekedar iseng atau apa pun. I've made it because I need to write what happen in my own life. Yeah, bisa dibilang semacam diari. Tapi saya tidak mau diketahui siapa saya. Karena seperti kata pepatah asing yang saya lupa kutipan dari siapa, menulis dapat menghilangkan stres. Dan saya ingin mengeluarkan unek-unek saya di sini.
Yang pasti, saya ini seorang mahasiswa semester dua di salah satu perguruan tinggi negeri di Depok. Saya orangnya biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol, dan yeah... just a plain boy.
Uhm, well, saya senang memberi sebuah nama pena (meski saya bukan penulis), at least di sini saya kan penulis blog, ya... Jadi saya ingin menyebut diri saya "Raku". Tanpa "S" ya, dear. Ah, ya lupa. Saya berjenis kelamin laki-laki. Bukan perempuan, hehehe.
Hope you are not disturbed by my own blog! Cheers!
Subscribe to:
Posts (Atom)