Kamu terlalu ambigu. Sekat tipis itu kadang kamu buat jadi tebal. Dan yang tebal itu kadang jadi tipis. Semuanya abstrak, semuanya membingungkan. Kamu tahu, bahwa keabstrakan yang kamu ciptakan itu menjadi sebuah senjata yang menikam hatiku sampai ke ulu?
Aku cuma bisa menebak-nebak, sama sekali tidak berani untuk merasakan. Sebenarnya, apa yang ada di hatimu? Kenapa kamu bersikap seperti demikian? Kenapa kamu tidak mengatakan segala luapan itu? Kamu aneh.
Kebohongan kini hanya jadi tameng. Tamengku untuk menutupi kegamangan yang kamu ciptakan. Yang kamu buat, yang kamu ciptakan. Mungkin, mungkin sampai nanti aku sendiri. Kamu kadang terlihat marah. Terlihat begitu menakutkan sehingga satu huruf saja aku tidak berani keluarkan untuk menyolekmu. Kepulan-kepulan kerinduan hati ini, sesungguhnya, menjadi sebuah makanan hatiku. Dan itu, karena kemarahanmu yang ambigu.
No comments:
Post a Comment