June 24, 2011

Perubahan dan BlackBerry

Sejujurnya, saya mau untuk mem-posting tulisan ini. Karena di sini terindikasi bahwa saya iri sekali dengan pengguna BlackBerry. Saya di sini juga beropini dan tanpa maksud apa pun ya...

Okay, sebenarnya, saya sudah dari dua tahun lalu kepengiiiiiin banget beli gadget ini. Pun, harganya sudah turun dan nggak terlalu mahal bagi sebagian orang. Sayang seribu sayang tetap saja saya gak bisa ngebelinya! Saya memang dilahirkan dengan kondisi keluarga yang biasa-biasa saja. Gak miskin-miskin banget juga sih hehehe. Tetapi ya begitu lah. 

Saya sadar juga, saya ini memang termasuk orang yang terbawa arus teknologi. Ya, emang sih gak semua temen saya pake BB ini. Tetapi kadang, saya terasa amat tertinggal jika mereka berkomunikasi dengan BBM dan sebagainya. Itu menyebalkan. Pun, keluarga saya ada rezeki berlebih, hal itu gak akan membuat mama saya untuk membelikan saya hal itu. Hahaha. Mengenaskannya adalah saya bukan tipe anak yang selalu diberikan sesuatu oleh orangtuanya sejak kecil. Dulu, ketika orangtua lain berlomba memberi hadiah Sega atau PlayStation jika anaknya dapet peringkat di sekolah, saya yang sering banget peringkat satu sama sekali gak pernah dibeliin apa pun. Sampai ponsel pun, saya baru benar-benar punya ketika saya kuliah. Sebelumnya, saya nebeng nomor mama saya. Ha! Saya pun beli ponsel bukan karena dibeliin, tapi beli sendiri karena memenangkan suatu lomba.

Dan, ketika semuanya menuntut untuk memakai BB ini, saya lagi-lagi gak bisa apa-apa. Mengandalkan menang lomba lagi? Agak sulit sepertinya. Ah, saya sedang mencoba meng-apply beasiswa. Semoga saja saya benar-benar dapat dan dapat membeli gadget ini... SAYA KEPENGIN SEKALI. BUKAN BUAT GAYA-GAYAAN KAYAK YANG LAIN... TAPI KARENA SAYA NGERASA SAYA BUTUH...

Kadang, dunia itu emang gak adil.

June 18, 2011

Galau Akademis

Nah, saya mau curhat! Ya ya ya ya. Curhat beneran. Tapi bukan tentang dia yang buat hati saya gamang sampai ke ulu... tetapi karena IP dan IPK di semester genap ini! Begini, jadi kemarin adalah batas pengisian nilai dari dosen ke web resmi kampus saya.

Harusnya, pukul 24.00 saya udah tahu IP dan IPK semester genap ini. TETAPI.... ada seorang DOSEN yang LUPA akan kewajibannya :( Menyebalkan sekali bukan? Jika begitu, konon katanya nilai bisa dipukul rata jadi B! B!!!! Sudah cukup deh ada B karena mata kuliah bahasa Inggris. Jangan ada lagi, please... Dan, dosen ini nampaknya sama sekali gak punya niat untuk segera membereskan masalah ini. Haduh si Bapak ini gimana sih. Saya jengkel lho Pak.... Bapak ngasih tugas banyak, kuis berkali-kali, terus... ga ngisi *IA*? Menyebalkan sekali. Memang, untuk sementara IP saya bagus; 3.72 dan IPK 3.75 (bukan maksud sombong). Dan jika saya kalkulasikan dengan rinci, jika saya dikasih (ya Allah amit-amit) B, IP saya jadi 3.61 dan IPK 3.70... Jujur, saya gak mau. Saya kira saya bisa lebih dari itu. Bukan masalah tidak bersyukur atau apa. karena hal ini disebabkan oleh dosen berinisial AY itu :( Ini kan atas kesalahannya... kenapa dia tidak punya keinginan untuk mencoba meminta dispen dari fakultas? Saya sangat kecewa sekali dengan dosen ini... 

Tapi ya sudahlah. Kita lihat bagaimana nanti :(

Yang kecewa, Riku.

June 01, 2011

Kamu dan Kemarahanmu

Kamu terlalu ambigu. Sekat tipis itu kadang kamu buat jadi tebal. Dan yang tebal itu kadang jadi tipis. Semuanya abstrak, semuanya membingungkan. Kamu tahu, bahwa keabstrakan yang kamu ciptakan itu menjadi sebuah senjata yang menikam hatiku sampai ke ulu?

Aku cuma bisa menebak-nebak, sama sekali tidak berani untuk merasakan. Sebenarnya, apa yang ada di hatimu? Kenapa kamu bersikap seperti demikian? Kenapa kamu tidak mengatakan segala luapan itu? Kamu aneh.

Kebohongan kini hanya jadi tameng. Tamengku untuk menutupi kegamangan yang kamu ciptakan. Yang kamu buat, yang kamu ciptakan. Mungkin, mungkin sampai nanti aku sendiri. Kamu kadang terlihat marah. Terlihat begitu menakutkan sehingga satu huruf saja aku tidak berani keluarkan untuk menyolekmu. Kepulan-kepulan kerinduan hati ini, sesungguhnya, menjadi sebuah makanan hatiku. Dan itu, karena kemarahanmu yang ambigu.